Luka Suminten di Panggung Serah 4: Amarah yang Menembus Tradisi

 

Foto: Faiz Baihaqi

KUDUS, Penakampus.id– Dari lima repertoar tari yang memukau Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) pada 25 April 2026 dalam gelaran "Serah 4", fragmen "Suminten Edan" menjadi penampilan yang paling menguras emosi penonton. Dibawakan oleh Riska Rahma Alya, mahasiswa semester 6 Prodi Seni Tari Universitas Negeri Semarang (UNNES), tarian ini secara dramatis menggambarkan perihnya penolakan cinta oleh seorang lelaki yang berujung pada hilangnya kewarasan sang tokoh utama.

Riska tampil sangat kontras, memadukan kehalusan gestur tradisi dengan ledakan emosi khas kontemporer. Di atas panggung, ia didampingi oleh Fika Esriliana yang apik memerankan "bayangan amarah" atau personifikasi depresi Suminten.

"Bagian paling berkesan adalah campuran gerakannya. Ada bedahan gerak halus, tapi butuh power dan emosional yang tinggi untuk mencapai karakter gila itu," ungkap Riska saat ditemui usai acara.

Meski tampil matang secara teknis, persiapan fisik pementasan ini tergolong singkat. Sebagai mahasiswa yang berbasis di Semarang, Riska mengaku hanya melakukan latihan intensif bersama tim sebanyak empat kali dalam sebulan. Keterbatasan waktu dan jarak justru menjadi pemacu bagi mereka untuk membangun chemistry yang kuat melalui kesepakatan konsep yang matang.

Riska berharap melalui kreasi kontemporer seperti ini, tari tradisional tetap relevan bagi anak muda dan bisa dikenal luas secara global. "Tarian itu mendunia, semua berhak menarikan. Harapannya, dunia bisa tahu bahwa Indonesia punya ragam kesenian yang luar biasa," tutupnya.

Pementasan malam itu pun berakhir dengan riuh tepuk tangan penonton sebagai apresiasi atas keberhasilan mereka menghidupkan kembali "akar" tradisi di tengah arus modernitas. (BAI/AIQ)


0/Komentar