Di antara riuh yang saling bertubrukan,
Namaku perlahan larut tak beraturan.
Suara-suara menjulang di atasku,
Hingga aku menjelma bayang.
Sudut-sudut kota menutup pintunya,
Menyisakan semburat merah di kelopak sore.
Aku terpaku di sana,
Menghitung denyut yang tak sempat pulang.
Apakah aku terlalu rapuh,
Atau dunia yang lihai menyembunyikan hangat?
Kutelusuri diriku di antara keramaian,
Namun jejakku perlahan kian samar.
Di kepalaku, roda-roda berderit,
Pikiran berputar pada poros yang patah.
Membuatku gugur tanpa suara,
Menjadi serpihan yang larut dalam angin.
Sunyi menggelayar perlahan,
Membekukan namaku,
Yang hilang di tubuh waktu.
Oleh: Anik Fatiatur Rohmaniyah

Posting Komentar