KUDUS, Penakampus.id – Wisuda
ke-77 Universitas Muria Kudus (UMK) menjadi momen yang krusial bagi para
wisudawan. Tiga mahasiswa dari program studi yang berbeda berhasil meraih gelar
cumlaude pada kamis (22/10).
Keberhasilan menyelesaikan
pendidikan tinggi menjadi pencapaian yang membanggakan bagi setiap mahasiswa. Salah
satu wisudawati yang membagikan pengalamannya adalah Jannati Khoirun Nisak dari
Program Studi Manajemen. Ia mengaku bersyukur dan lega setelah berhasil
menyelesaikan pendidikan dengan predikat cumlaude, meskipun harus
melewati berbagai tantangan selama masa perkuliahan.
“Alhamdulillah lega, akhirnya
setelah penantian panjang bisa lulus,” ungkap Jannati.
Selain menjalani kegiatan
perkuliahan, Jannati juga berusaha mandiri dengan berjualan makanan di depan
rumah dan membantu menjaga toko, terutama saat libur semester. Dalam perjalanan
akademiknya, ia pernah mengalami penurunan Indeks Prestasi Semester (IPS) yang
sempat membuatnya merasa terpuruk. Kondisi tersebut mendorongnya untuk
memperbaiki cara belajar dan lebih aktif mengikuti kegiatan di kelas.
Dukungan orang tua menjadi salah
satu sumber motivasi bagi Jannati untuk tetap bertahan menghadapi berbagai
kesulitan. Menurutnya, proses penyusunan skripsi, mulai dari pengajuan judul,
seminar proposal, hingga sidang akhir, menjadi tantangan terberat selama
kuliah. Meski demikian, kebersamaan dengan teman-teman seperjuangan turut
menjadi pengalaman berharga yang tidak terlupakan.
Setelah menyelesaikan studi,
Jannati berencana untuk langsung bekerja. Ia juga berpesan kepada mahasiswa
yang masih menempuh pendidikan agar tidak mudah menyerah, khususnya ketika
memasuki semester akhir, serta senantiasa mengingat perjuangan orang tua.
Pengalaman berbeda dialami
Nandita Rahma Estyaningtyas, wisudawati Program Studi Teknik Informatika.
Sebelum melanjutkan pendidikan di UMK, Nandita sempat mengambil jeda selama
satu tahun. Ia mengaku sempat khawatir akan mengalami kesulitan dalam menjalin
pertemanan ketika memasuki lingkungan perkuliahan.
Namun, kekhawatiran tersebut
tidak menghalanginya untuk melanjutkan pendidikan hingga berhasil meraih
kelulusan. Ia menegaskan bahwa kesempatan untuk menempuh pendidikan tetap
terbuka meskipun seseorang tidak langsung melanjutkan kuliah setelah menyelesaikan
jenjang sebelumnya.
“Nggak ada kata terlambat,” ujar
Nandita.
Selama berkuliah, Nandita pernah
menjalani program magang di bagian hukum Pemerintah Kabupaten Kudus serta
mengikuti Himpunan Teknik Informatika. Dalam penyusunan tugas akhir, ia
mengembangkan sistem informasi berbasis web yang ditujukan untuk organisasi
mahasiswa di lingkungan kampus.
Nandita juga mengingatkan
mahasiswa agar mampu mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan
pendidikan. Menurutnya, tanggung jawab atas gelar yang diraih berada pada
masing-masing mahasiswa.
“Jangan bergantung sama teman,
karena gelar kamu itu milik kamu sendiri,” katanya.
Usai lulus, Nandita berencana
mencari pekerjaan sekaligus membantu usaha konveksi milik orang tuanya.
Sementara itu, Ilham Nurcahyo,
wisudawan Program Studi Agroteknologi Pertanian, menceritakan tantangannya
selama menempuh pendidikan di UMK. Sebagai mahasiswa asal Sumatera yang
merantau ke Kudus, ia mengaku menghadapi kesulitan dalam mempertahankan motivasi,
terutama ketika menyelesaikan skripsi.
“Kan struggle banget kalau pas
skripsian. Tapi jadi bangga aja sama diri sendiri,” ungkap Ilham.
Salah satu pengalaman yang paling
berkesan bagi Ilham adalah ketika melakukan penelitian yang mengharuskannya
menanam lebih dari 300 tanaman. Penelitian tersebut membutuhkan bantuan orang
lain sehingga ia melibatkan teman-temannya dalam proses pengerjaan. Pengalaman
bekerja sama selama penelitian menjadi bagian penting dalam perjalanan
studinya.
Selain berfokus pada kegiatan
akademik, Ilham juga pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selama
satu periode pada semester tujuh. Setelah lulus, ia berencana tetap tinggal di
Kudus untuk mencari pekerjaan dan mencoba mengikuti program MagangHub.
Kisah ketiga wisudawan tersebut
menunjukkan bahwa perjalanan menuju kelulusan tidak selalu berjalan mudah.
Berbagai tantangan, mulai dari menjaga motivasi belajar, menyelesaikan skripsi,
hingga membagi waktu antara perkuliahan dan kegiatan lainnya, menjadi
pengalaman yang membentuk perjalanan mereka dalam meraih gelar akademik. (ADP/INA)

Posting Komentar