KUDUS, Penakampus.id – Ditengah
arus perkembangan digital, Ngaji Budaya Swara Kesadaran #2 hadir di lapangan
basket Universitas Muria Kudus (UMK) dengan tema “Rerasan Kahanan Literasi
Pengetahuan Jawa dalam Dunia Digital Hari Ini” yang berlangsung pada Jum’at
(23/10).
Acara ini diinisiasi oleh Max
Production, Swara Kesadaran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
UMK. Kegiatan diawali dengan penampilan tari Gambyong oleh Teater Tiga Koma,
kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh salah satu anggotanya, Ella
Nailul Fitria.
Memasuki acara utama, Ngaji
Budaya Swara Kesadaran #2 menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama mengenai
pengetahuan Jawa, khususnya berkaitan dengan akses dan penyebaran pengetahuan
dalam ruang digital. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Bukhori Masruri dan
menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, peneliti, pemerhati,
praktisi, serta budayawan.
Dalam pengantarnya, Bukhori
menjelaskan bahwa istilah rerasan berasal dari kata rasan-rasan.
Namun, dalam kegiatan tersebut, rerasan dimaknai sebagai ruang bersama untuk
membicarakan budaya dan ekonomi serta kontribusinya dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu narasumber, Much
Arsyad Fardani, menyoroti ketertarikan generasi muda terhadap budaya Jawa yang
mulai tumbuh melalui pendekatan-pendekatan baru. Menurutnya, budaya Jawa
sebenarnya tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh generasi penerus. Hal yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana generasi saat ini mengakui dan memahami budaya
tersebut bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian
dari kehidupan masa kini.
Sementara itu, Endro Hadikusumo
menyoroti perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan atau artificial
intelligence (AI), yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Ia
mencontohkan bagaimana aktivitas pengguna dalam aplikasi digital dapat
memengaruhi konten yang muncul di halaman rekomendasi mereka.
Menurut Endro, ruang digital
perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas dan
pengetahuan budaya. Ia juga menyayangkan banyaknya konten di internet yang
dinilai kurang memberikan nilai pengetahuan. Padahal, budaya Jawa memiliki
kekayaan tersendiri, salah satunya tercermin dalam tingkatan bahasa Jawa yang
menunjukkan kompleksitas dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat.
Narasumber berikutnya, Taufiq
Hakim, menanggapi kekhawatiran mengenai kemungkinan tergerusnya budaya akibat
perkembangan dunia digital. Ia menilai bahwa budaya memiliki kemampuan untuk
beradaptasi dengan perubahan zaman. Oleh karena itu, ukuran viral di media
sosial tidak seharusnya dijadikan tolok ukur utama untuk menentukan kebenaran
suatu pengetahuan.
Ia menekankan pentingnya kelakon
dan kawruh sebagai bagian dari pemahaman pengetahuan yang perlu
dibuktikan melalui praktik nyata. Menurutnya, persoalan bahasa dan sastra Jawa
juga berkaitan dengan fenomena sosial yang berkembang di masyarakat dan tidak
selalu dapat dikendalikan secara langsung.
Pembahasan mengenai pengetahuan
di balik tradisi Jawa turut disampaikan oleh Yasir Arafat. Ia menjelaskan bahwa
kebudayaan Jawa kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, padahal sejumlah tradisi
dan benda budaya menyimpan pengetahuan yang tidak selalu dipahami secara tepat
oleh masyarakat. Ia mencontohkan makam, dupa, dan parfum sebagai hal-hal yang
memiliki makna atau pengetahuan di balik penggunaannya.
Pandangan serupa disampaikan BRM
Bambang Irawan yang membahas mistifikasi dalam budaya Jawa. Menurutnya,
pengetahuan Jawa tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang dianggap memiliki
kekuatan khusus, tetapi juga mencakup berbagai ajaran mengenai perilaku dan
pengendalian diri, seperti mengurangi makan dan tidur.
Ia juga menyinggung keris sebagai
salah satu benda budaya yang menyimpan nilai pengetahuan. Dalam penjelasannya,
keris tidak semata-mata dinilai dari bahan besinya, tetapi juga berkaitan
dengan proses pembuatan dan pemaknaan yang berkembang dalam kebudayaan Jawa.
Pada masa lalu, ketika kemampuan baca-tulis belum merata di masyarakat,
berbagai pesan dan tuntunan hidup disampaikan melalui simbol serta praktik
kehidupan sehari-hari.
Salah satu nilai kehidupan yang
disorot dalam pembahasan tersebut adalah keyakinan bahwa setiap perbuatan akan
membawa konsekuensi. Nilai itu tercermin dalam ungkapan bahwa siapa pun yang
menanam akan menuai hasilnya, baik maupun buruk, meskipun waktu datangnya hasil
tersebut tidak diketahui.
Dalam diskusi tersebut, turut
mengemuka pandangan bahwa berbagai kebudayaan Jawa pada dasarnya memiliki
keterkaitan, meskipun dalam perkembangannya kerap dikelompokkan dengan penamaan
yang berbeda. Pengelompokan tersebut dinilai tidak terlepas dari pengaruh
sejarah, termasuk masa kolonial Belanda.
Setelah masing-masing narasumber
menyampaikan pandangan awal, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab
bersama peserta. Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mendalami
berbagai persoalan mengenai literasi pengetahuan Jawa, pelestarian budaya,
serta pemanfaatan ruang digital.
Acara ditutup dengan penyerahan
sertifikat kepada para narasumber dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Melalui kegiatan ini, Ngaji Budaya Swara Kesadaran #2 menjadi ruang pertemuan
untuk membahas kembali relevansi pengetahuan Jawa sekaligus mendorong pemahaman
budaya yang lebih kritis di tengah perkembangan teknologi digital. (AIQ)

Posting Komentar