Suara debur ombak menjadi rima nyanyian alam. Angin
melambai-lambaikan ujung rok dan anak rambutku. Hanya aku seorang di sana.
Sembari memandang warna jingga di ujung sana, aku
membayangkan, bagaimana jika langit terus berwarna seperti ini. Tak ada gelap
dan terang. Seperti halnya kehidupan yang serba abu-abu.
Namun, aku buru-buru menyanggah pikiranku sendiri. Akan
membosankan jika langit selalu senja. Biarlah ada pagi dan malam, biarlah laut
pasang dan surut. Biarlah ada hujan dan terang. Seperti harapan dan mimpi
setiap insan di muka bumi, warna-warni.
Di tengah laut Jawa, mentari kehilangan separuh badannya.
Derap langkah di pasir berhenti tepat di belakangku. Aku
tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
“Aku tahu kau akan datang, sayang.”
Kuusap ujung air mataku, menyunggingkan senyum terbaik yang
kumiliki saat itu juga.
Ranu beridiri di sampingku. Tubuhnya yang jakung membuat
kepalaku hanya dapat menyender di lengannya. Yang segera dimasukkanya di
ketiaknya yang hangat. Jemarinya yang panjang mengelus pinggangku.
“Kalau masih perih. Bicaralah semaumu.”
Mendengar itu, semakin kutenggalamkan diriku ke badan Ranu.
Angin teluk mendadak dingin. Ranu memandang jauh ke tengah
laut, ke arah mentari yang tinggal separuh.
“Air teluk ini… bukan lagi air yang pernah membasuh mata
kaki R.A. Kartini,” katanya.
“Apa yang membuatnya berbeda?” tanyaku.
“Air ini telah keruh oleh dosa-dosa keserakahan para
penguasa.”
“Dosa mereka, kan? Bukan dosa kita.”
“Dosa mereka. Tapi yang kecipratan kita semua.”
Kesiur angin membuat topik kami terasa lebih hidup.
“Andai Kartini bisa hidup kembali, dia gabakal sudi
membasuh kakinya di sini,” lanjut Ranu.
Ponsel Ranu berdering. Nada dering sialan yang selalu
berbunyi di saat kami sedang bermesra. Ranu menjauh beberapa langkah untuk
mengangkatnya.
Pernah nada dering itu berbunyi lima kali pertiga menit
saat kami sedang malam mingguan di Braga, Bandung. Ponsel yang kucuri paksa
dari tangan Ranu tak jadi kubanting, karena, dia selalu tahu cara memadamkan
apiku.
Di jalan Braga yang ramai pengunjung, Ranu mencium kening
dan bibirku sekaligus.
Jangan tanya wajahku yang pasti memerah dan salah tingkah.
“Ranu memang obat paling manjur buat perih semacam ini.”
Aku bergumam pada gelembung ombak yang tertingal di telapak
tangan.
Derap kaki terburu Ranu menimbulkan riak pasir sedikit
lebih tinggi. Tanpa menjelaskan apapun dia menarik lengan kiriku. Yang segera
kukibaskan begitu saja.
“Gaada waktu buat jelasin ke kamu, Dhis.”
“Aku masih mau di sini.”
“Tentara bersih-bersih kampus, Gendhis! Nama kita ada di
daftar mereka!”
***
Beberapa
jam sebelumnya, di basecamp Seni Kampus.
Suara mencicit printer berhenti, setelah puluhan lembar
naskah drama Pelacur & Sang Presiden karya Ratna Sarumpaet berhasil
dicetak.
“Ini pemimpin negara gue, gimana sih. Katanya mau ngeluarin
dekret darurat cuma gara-gara didemo. Udah tau Rupiah melemah masih aja
seenaknya sendiri. Bejat.”
Bukan aku kalau tidak terbiasa dengan Jelita, gadis Bekasi
si pengkritik pemerintah nomor satu.
“Apasih Ta… Uweslah. Apa sih, yang kamu harapin dari
pemerintah.”
“Didiemin ngelunjak anjir. Gak habis pikir.”
Jelita sempat melirikku tanpa menghentikan kegiatan
scrollnya.
“Makanya kita harus melawan. Salah satu caranya dengan…
naskah ini.”
Kukibas-kibaskan tumpukan kertas hangat itu sehingga
menimbulkan bunyi prok-prok tipis.
“Setuju. Setuju kali aku, sama Arifa. Kalau nggak dilawan,
makin seenaknya saja Presiden itu.”
Aku tertawa, karena, meski pertemuan pertamaku dengan
Renggis sudah dua tahun yang lalu. Aku tak pernah terbiasa dengan logat
Medannya. Apalagi kini mulutnya penuh dengan ayam geprek Kereta Dahar level 5,
menu extra pedas favorit saentro mahasiswa Universitas Pantai Utara.
Pintu basecamp terbuka.
“Gendhis mana? Ada yang lihat Gendhis?”
Nurbaya bertanya bahkan sebelum meletakkan tasnya.
“Perasaan Gendhis mulu ah, bosen gue dengernya.”
Kutimpuk si mulut pedas itu dengan naskah di genggamanku.
Berani-beraninya ia ngomong gitu sama Nurbaya, Bu Sekre, orang paling galak di
basecamp ini.
“Gendhis baru saja nerima telfon, terus dia nyelonong gitu
aja. Tuh barang-barangnya masih di sini,” kataku.
“Sebelum kamu datang pacarnya juga nyariin dia.”
Renggis membantuku menjelaskan.
Nurbaya mengangguk. Meletakkan tas dan duduk di samping
Renggis. Sorot mata harimaunya, yang dikenal satu kampus, kini menemukan
mangsanya, yaitu Jelita.
“Wajar ya kalau aku sering nyariin Gendhis. Aku tuh
astrada, sekaligus penyunting naskah. Dan dia aktor utama di pementasan nanti!
Mulut doang gede, nalar ga dipake.”
Renggis tersedak. Jelita senewen. Aku mengulum bibirku
sendiri, menahan tawa.
***
Sebuah mobil berpelat merah, diiringi dua truk tentara,
menggelinding memasuki gerbang Universitas Pantai Utara.
Mahasiswa yang peka akan situasi tersebut merasa tak nyaman
atas kehadiran mereka. Ada yang langsung membuka WhatsApp, mengabari rekan
sebasecamp. Juga tak sedikit yang mengambil video dan foto. Ini dapat menjadi
headline menarik di unggahan TikTok.
“Untran-untran opo meneh iki…”
Nametag ‘ATMOJO’ terpampang di PDH Seni Kampus, milik si
pria kribo yang tengah merokok di Gazebo Ngepringan, gazebo bambu tanpa paku
hasil prokernya sendiri.
Dari tempatnya bersantai, ia dapat mendengarkan apa yang
sedang dibicarakan Tentara-tentara itu.
“Segera cari tahu keberadaan Ranu Ekalaya, anggota Seni
Kampus dan semua nama yang terdaftar di surat ini.”
“Gendeng, kebacut tenan nek iki!”
Atmojo terbirit menaiki anak tangga. Sesekali misuh karena
kesandung. Ada berita yang harus ia sampaikan secepat mungkin.
***
“Guys!”
Atmojo berdiri di ambang pintu, masih terengah. Matanya
langsung tertuju pada naskah di tanganku.
“Delikno naskah iku! Cepet! Tentara. Ono tentara neng
kampus!”
Seisi ruangan langsung panik.
Orang semacam Jelita pun, mulai hilang kendali, “Kenapa
mereka ada di sini.”
“Presiden baru aja ngeluarin dekrit baru. isine tentang
perintah penangkapan orang-orang seng dianggep makar.”
Renggis menyodorkan minumannya kepada Atmojo.
“Ketua BEM melbu dalam daftar kuwi. Juga kita, anggota Seni
Kampus.”
Nurbaya membuka tirai jendela. Di luar mulai ramai.
“Di luar mulai kisruh. BEM dan DPM bersatu.”
“Kenapa Kita”
“Mungkin karena itu”
Nurbaya menunjuk tumpukan kertas di tanganku.
Aku bergegas menyembunyikan naskah-naskah itu ke balik
lemari kostum. “Negara sudah gila, Negara ini sudah gila.”
“Orde Baru 2.0, here we go,” gumam Nurbaya lirih, masih
memandang keluar jendela.
“Weh. AYO KELUAR! GAONO WAKTU NEH!”
***
Langit melantunkan doa penutup makan usai kenyang melahap
mentari di ufuk barat. Jus mangga dengan sedikit sirup stowbery tumpah di
langit Universitas Pantai Utara.
Di luar keadaan semakin tak terkendali. Ratusan mahasiswa
yang masih ada di kampus mengerubungi para tentara. Salah satu di antara mereka
memanggil bantuan.
Berbagai barang yang bisa dilempar. Dilempar begitu saja.
Satu dua asap hitam mulai mengepul berbaur dengan tumpahan Jus mangga di
langit.
Di tengah keadaan yang seperti itu. Tentara melepaskan
tembakan peringatan.
***
Setiba di kampus, Ranu mengenggam tanganku erat-erat, bagai
jangkar yang menyengkeram dasar laut pantai utara. Getir dan was-was hatiku
saat kami menembus massa.
Chaos. Kata yang tepat untuk menggambar kampus malam ini.
Kami berlarian mencari teman-teman, sambil ‘merunduk’.
Karena memanglah kami yang dicari para aparat itu. Hati kecilku lebih menyukai
panggilan keparat daripada aparat.
Di depan kami, seorang tentara menyeret mahasiswi yang
sudah tak lagi melawan. Mengayomi, katanya. Bagiku lebih mirip mengaumi.
Sambil merunduk dan berlari di balik bayang-bayang. Segala
kejadian yang ada di hadapanku tiba-tiba melambat, bagai adegan slowmo di
film-film.
Suara ibu melalui telepon siang tadi, datang dari berbagai
arah. Suara lembut tapi tegas itu, lantang, menggedor ingatanku. Membuatku
menangis diam dalam kewaspadaan.
“Nduk cah ayu… sebenarnya udah tiga hari yang lalu, bapak
kena PHK massal. Bagaimana kuliah dan kerja sampinganmu di sana?”
Seorang mahasiswa tersungkur di sampingku. Ranu segera
menolongnya.
“Harga bahan pokok naik semua… Syukurlah dua hari ini, Mbak
Yu Kenanga mantu. Jadi bisa meminimalisir pengeluaran Ibuk sama Bapak. Kamu
yang baik-baik ya, nduk, di sana…”
Gas air mata entah yang keberapa, aku tak yakin, mungkin
sudah puluhan kali mereka memberondong mahasiswa dengan asap perih itu.
Massa terdesak mundur. Ranu dan orang yang ditolong (baru
kusadari ia salah satu anggota DPM) terinjak-injak.
“Maafin kita ya nduk… Selama ini belum bisa ngasih sangu
kamu yang cukup. Bapak sama Ibuk udah berusaha dan ngasih semua yang kami
punya-
Bongkahan kayu melayang tepat mengenai ubun-ubunku. Dengan
sisa-sisa kesadaran, aku melihat Ranu berteriak, meraih punggungku.
“GENDHIS!!!”
“ranu…”
***
Aku berada di gelapan. Di sana aku duduk sendirian di depan
sebuah layar yang besar. Mirip sebuah studio bioskop tapi hanya ada satu kursi
tempatku duduk manis di sana.
Kenangan yang mampu kuingat sejak kecil dipertontonkan,
tanpa bisa memilih kenangan bahagia atau menyakitkan.
Hingga pada malam ini. Aku dapat melihat tubuh dinginku
dipangkuan Ranu.
Dia menangis?
“Harusnya aku nggak narik kamu dari pantai, Dhis. Salahku.
Ini salahku.”
Ranu memukuli dadanya sendiri. Layar lalu berganti ke ruang
tamu rumah kami. Ibu masih menggenggam ponsel yang sejak siang tak lagi
kujawab. Bibirnya terus mengulang kalimat yang sama, maafin Ibuk, nduk, maafin
Ibuk.
Ibu meminta maaf karena sangu yang tak pernah cukup. Ranu
menyalahkan tangannya yang menarikku ke kampus. Dan aku menyesal telah menutup
telepon Ibu tanpa sempat bilang aku baik-baik saja. Kami sibuk menghitung dosa masing-masing,
padahal bukan kami yang mengeruhkan air teluk itu.
Layar berganti lagi. Seorang pembawa berita membacakan
kabar dengan suara datar.
“Berita terkini. Dekrit baru yang dikeluarkan Presiden
menimbulkan kericuhan di Universitas Pantai Utara. Beberapa nama yang masuk
dalam daftar berhasil ditangkap. Kendati ratusan mahasiswa semakin melakukan
perlawanan. Kabar selanjutnya akan kami sampaikan sesaat lagi.”
“Kericuhan yang terjadi di Universitas Pantai Utara
mengundang kericuhan lain di pelbagai kampus. Telah ditemukan korban jiwa dalam
tragedi ini. Di antaranya 3 korban jiwa dari Universitas Pantai Utara dan 2
korban jiwa dari Universitas Pantai Selatan.”
Satu dari tiga itu aku.
Malam itu benar-benar menjadi babak baru bagi negeriku
tercinta. Negeri yang sering kuanalogikan di berbagai workshop seni dengan
sebutan; negeri seksi yang setiap hari disetubuhi anjing.
Di layar besar itu, api membumbung tinggi di pelbagai
daerah, rumah dan bahkan di dada setiap orang. Teriakan ribuan orang memenuhi ruangan
tempatku duduk sendirian.
“REFORMASI ATAU REVOLUSI!”
Aku tak tahu mereka akan memilih yang mana. Aku hanya
berharap, kelak, air teluk itu cukup jernih untuk membasuh mata kaki
Kartini-Kartini yang lain.
Solo, 2/10/2026

Posting Komentar