Dalam lingkaran ritual aku merapal.
Tak ada sakramen yang sengaja menyalakan dupa hanya demi menyaksikan apinya pupus ditelan sanghaya.
Kusembelih bagian-bagian jiwa yang paling gaib, meneteskan amis darah di atas prasasti namamu yang rahasia,
menjadikan rentetan malam sebagai tumbal yang tak pernah sempat kaubaca di lembaran milik tuhan.
Namun berhala yang kutengadahi tetap bungkam,
tak jua melimpahkan tuah pada jemari yang paling lebam,
menggenggam jelaga dengan mantra terlarang.
Bila pengabdian ini bermuara karam di ceruk pekat,
biarlah bangkai persembahan ini memahat bukti bahwa aku pernah mengagungkanmu berbekal nyali.
Tak ada harap untuk kau jamah,
melainkan memasrahkan leher pada parang takdir,
menjadi abdi yang abadi di balik tabir.
11 Oktober 2026
Penulis: Usher_Pr@nk

Posting Komentar