Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Foto: Istimewa
KUDUS, Penakampus.id - Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Di tengah eskalasi konflik tersebut, publik justru menyoroti sebuah video lama budayawan Emha Ainun Nadjib atau biasa dikenal dengan panggilan Cak Nun yang kembali viral di media sosial.
Potongan video ceramah Cak Nun yang beredar luas di Instagram dan TikTok itu direkam pada 2012 di Masjid Raya Klaten. Dalam ceramah tersebut, Cak Nun menyampaikan pandangannya mengenai potensi konflik besar di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dalam video itu, Cak Nun menyebut kemungkinan Iran suatu hari akan diserang oleh Israel dan Amerika Serikat. Ia juga menyinggung potensi keberpihakan Arab Saudi apabila konflik berskala besar benar-benar terjadi.
“Suatu hari Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika. Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia membela mana?” ujar Cak Nun dalam potongan ceramah yang kembali ramai dibagikan.
Ucapan tersebut kembali mencuat seiring konflik antara Iran dan Israel yang kembali pecah dan melibatkan Amerika Serikat secara langsung. Serangan udara dan balasan rudal membuat situasi keamanan kawasan berada di titik eskalasi baru.
Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran. Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen krusial dalam konflik terbaru ini.
Seiring perkembangan itu, warganet ramai mengaitkan kondisi terkini dengan pernyataan Cak Nun 14 tahun lalu. Sebagian menilai ucapannya sebagai “ramalan yang terbukti”, sementara lainnya melihatnya sebagai analisis geopolitik yang disampaikan jauh sebelum konflik memuncak.
Dalam ceramahnya, Cak Nun juga menekankan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berkaitan dengan perang dan kepentingan politik, tetapi juga menyangkut perebutan pengaruh ideologis dan kekuatan global. Ia mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi oleh dinamika internasional.
Di tengah derasnya arus informasi dan emosi publik akibat konflik global, pernyataan lama tersebut kembali relevan dan menjadi bahan diskusi publik. Ketika perang kembali pecah, ucapan lebih dari satu dekade lalu itu pun kembali hidup dalam ingatan masyarakat. (AIQ)

Posting Komentar