Sekuntum Jari Tengah

Foto: Istimewa


 “TIADA daya dan upahn

ya melainkan dari Rehan.”

Kalimat plesetan yang sedikit persetan dari rekan-rekan kerjaku, ketika mendapat jatah lembur atau tugas yang bejibun.

Ngomong-ngomong soal Rehan. Ia adalah bos anomali yang gemar memberi tugas dadakan di jam pulang. Dengan ancaman bila tidak mematuhi apa yang ia kehendaki, potongan gaji menanti.

Kecik, salah satu senior yang berseberangan dengan segala sesuatu yang dicetuskan oleh Rehan. Membuat alternatif visioner kalimat plesetan persetan tersebut.

Berbohong kalau aku tidak ikut-ikutan dan menikmati kalimat bermajas metafora itu.

Meski statusku adalah pegawai baru di tempat toxic ini. Memiliki bos berwatak demikian adalah musibah terbesar yang ku alami di pertengahan abad 21. Dalihnya selalu saja soal; kerjaan tambahan ini dapat kamu jadikan portofolio. Dan beruntung kamu dapat atasan yang gemati seperti saya.

“Dasar NPD.”

Lulus Jurusan Sastra Indonesia di kampus swasta Kudus, nasib melemparku ke Kota Surakarta. Sebuah kota yang belum kukenali sama sekali.

Bila aku dapat memilih takdirku sendiri. Aku lebih memilih Jogja daripada Surakarta. Mengapa?

Jogja adalah kota impianku sejak umur tujuh belas.

Masa itu, aku dan sahabat karibku bermimpi, saat lulus SMA nanti, kita bertemu lagi di Universitas Gadjah Mada. Naas obrolan itu tetap menjadi mimpi. Nasib melemparnya ke Malang, dan aku cuma melangkah satu kota dari kota asalku.

Salah satu stasiun kepenyiaran Surakarta menerima lamaran kerjaku dua minggu lalu. Surat lamaran yang bersaing dengan ratusan lamaran lain di website JobStreet. Belum terhitung bila stasiun penyiaran itu membuka lamaran luring.

Iseng-iseng berujung rejeki. Aku diterima di bagian pranata siaran. Kalau kalian tidak tahu, pekerjaan itu semacam menulis naskah atau pembuat skenario penyiaran.

Alarm crossing barrier rel kereta membuyarkan laumananku. Pukul 08.30 merupakan jadwal pembarangkatan pagi kereta api Stasiun Balapan.

Inilah yang kurang kusuka dari Surakarta. Jalanan padat yang hampir mirip Ibu Kota. Apalagi jalanan di sini penuh gudik, dalam artian, gronjalan. Jalan kecil pun ramai dengan mobil.

Ah, aku masih belum terbiasa dengan keriuhan kota ini.

Cuaca siang harinya, jangan ditanyakan. Matahari terasa ada lima. Pun aku masih belum menemukan, yang katanya, Surakarta itu murah-murah. In this ecomony, murah dari mananya?!

Tiga menit dari rel kereta api. Motor Astrea legendaku parkir dengan rapi. kuharap hari pertama di minggu ketiga akan secerah langit Surakarta pagi ini.

“Pagi, Kak Cynthia”

Menyapa seluruh pegawai dan menebar senyum sudah menjadi SOP di tempat ini.

“Oh, ya, pagi juga Zaki”

Perempuan anggun berkamata dengan potongan rambut wolfcut itu kembali menata berkas di meja resepsionis. Menyiapkan daftar hadir pegawai.

Lelaki ini lagi. Perasaanku tidak enak.

“Pagi, pak.”

“Pagi, eh, Zak. Sekarang juga kamu berangkat ke TKP laka kereta di Jalan Slamet Riyadi.”

 Tuh, kan!

“Itu bukan tugas saya dong pak. Saya masih harus revisi kerjaan devisi kemarin.”

“Devisi Konten Media Baru kan, kamu? Nanti, Rika (Ketua Devisi) saya kabari.”

Hedeh… Tiada daya dan upahnya melainkan dari Rehan, memang,

“Sekarang banget nih pak?”

“Kapan lagi. Mumpung masih anget-angetnya.”

Ingin rasanya aku memegang kepalanya dan bilang. Tenangkan diri lo, Rehan. Buru-buru gak akan bikin hasil kerja lo maksimal. Lalu kutepuk jidatnya dan memberikan sekuntum jari tengah padanya.

“Sama Cynthia, ya.”

“YANG BENER AJA PAK!?”. Membanting tumpukan berkas di tangannya.

Gokil… perempuan cantik yang anggun nan pemberani.

Rehan, Si Sialan Kepalang itu berdehem. Menunjukkan kemutlakannya pada kami berdua.

Kak Cynthia menyahut tas selempang, sebelum ia menyengkeram lenganku.

Aku tahu, tapi aku belum bisa membuktikan.

Belum sempat menikmati pendingin dan kursi empuk ruangan devisi. Aku harus bertempur lagi dengan polusi udara jalanan Surakarta.

Sebelumnya, sudah kutawari Kak Cynthia untuk memakai mobil dan sopir kantor saja. Dia tak mau. Surakarta selalu ramai kecuali tengah malam. Begitu katanya.

“Si Babi gemuk itu selalu seenaknya saja.”

Lima menit berlalu dalam diam, akhirnya Kak Cynthia membuka obrolan.

“Gimana kak?”

“Rehan, bosmu itu lho, semaunya sendiri kalau nyuruh-nyuruh.”

Aku ber-hehe. Bukan karena suara Kak Cynthia tak terdengar, melainkan bingung harus merespon bagaimana. Terutama karena mereka berdua adalah seniorku.

“Dari dulu emang kaya gitu kak?”

Kak Cynthia tak segera menjawab.

“Ceritanya panjang, Zak. Dan ini udah rahasia umum.”

“Kok aku belum tau.”

“Udah aku-kamu aja nih. Kebiasaan ya…”

“EH sorry kak. Sumpil. Ya ampun, sorry kak, beneran gak sengaja.”

“Ihh takut… ada buaya brondong…”

Di bangjo Manahan, kami menjadi hangat dan akrab, sedangkan Solo Raya memanas dibakar cemburu.

Kak Cynthia berjanji menceritakan rahasia umum itu setelah kami liputan.

Diceritakannya, Rehan mulai bersikap demikian sejak adiknya masuk penjara karena terjerat kasus narkoba, ditambah saat lima hari setelah penangkapan sang adik. Ibunya, orang tua satu-satunya meninggal. Ia sangat terpukul akan peristiwa itu.

Rehan selalu menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu lembut pada adiknya. Sehingga adiknya manja dan salah pergaulan. Mulai saat itu ia keras terhadap dirinya. Menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Jika ada pegawai lain yang berhalangan, ia siap menggantikan. Bahkan lintas devisi. Apapun ia kerjakan. 

Pernah ia diingatkan oleh seseorang, kalau ia terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Lantas Rehan menjawab; kau diam. Tau apa kamu, semua ini saya lakukan agar saya dapat lupa dengan peristiwa itu.

Dengan bersikap keras pada dirinya sendiri, tanpa ia sadari orang-orang yang ada di sekitarnya terkena dampaknya.

Lambat laun, yayasan senang dengan sifat baru Rehan. Pada awal periode, ia diangkat menjadi pimpinan produksi.

“Begitulah, riuh yang ada di dalam bangsat itu,”

Setelah menuntaskan cerita, Kak Cynthia menyeruput es krim stroberi yang kami beli di kedai. Mata beningnya yang bulat mengerjap-erjap kecut membuatnya semakin imut.

Aku kembali ke laptopku. Menulis tail news yang menarik.

“Kalau riuhmu gimana kak…”

 Tangan kanannya mencubit pingganggku. Dasar buaya.


Karya: Kusen Pintu



0/Komentar