Lebih dari Sekadar Tren "Kalcer": Menelisik Filosofi Kopi Muria dan Sejarah Kretek di Kudus

 

Sumber Foto: Istimewa

KUDUS, PenaKampus.id - Budaya "ngopi" di kalangan generasi muda saat ini telah berkembang pesat menjadi bagian dari gaya hidup populer. Namun, di balik tren visual dan estetika gaya kalcer yang marak di media sosial, terdapat narasi panjang tentang tradisi lokal, proses agribisnis, serta bentang sejarah warisan daerah yang belum sepenuhnya dipahami oleh para penikmatnya.

Hal tersebut menjadi benang merah dalam diskusi interaktif bertajuk "Kalcerporia: Budaya Kretek & Kopi Kudus" pada Minggu (30/8) dengan mengusung tema "Gotong Royong dalam Secangkir Kopi dan Sebatang Kretek". Forum yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus (UMK) ini bertujuan mengajak mahasiswa dan komunitas muda menggali kembali nilai sosial, ekonomi, dan sejarah di balik potensi lokal Kudus.

Owner Sidji Coffee, Valerie Yudistira Pramudya, yang hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa budaya minum kopi di kalangan anak muda seharusnya tidak berhenti pada pemenuhan gaya hidup atau tren kalcer semata. Saat ngopi, anak muda sebaiknya tidak hanya mengejar status 'kalcer', tetapi juga memahami budaya nya. Di balik pahitnya kopi, ada proses panjang dari petani pegunungan hingga bisa dinikmati. Kawasan Muria adalah daerah penghasil kopi, jadi ini ajakan untuk melestarikan potensi lokal," ujar Valerie.

Beliau juga menambahkan pentingnya memahami identitas Kudus sebagai Kota Kretek karena budaya ngopi dan kretek selalu berdampingan dalam ruang interaksi sosial masyarakat.” Selain itu, Valerie secara khusus berharap mahasiswa dari Fakultas Pertanian UMK dapat diajak berkolaborasi melalui riset dan terlibat langsung dalam forum-forum seperti ini.

Melalui kegiatan ini, BEM UMK bersama para praktisi dan komunitas berharap dapat mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga, mendokumentasikan, dan melestarikan potensi lokal. Pelestarian budaya bukan sekadar tugas pelaku usaha atau pemerintah, melainkan komitmen bersama untuk menjadi agen pelestari warisan budaya yang berkelanjutan. (SMZ)



0/Komentar