KUDUS, Penakampus.id– "Kalau tubuh kita itu nadinya, Kali Gelis ini adalah nadi kehidupan warga Kudus. Begitu sungai ini tercemar, itu sama saja seperti nadi kita tersumbat kolesterol. Otomatis kesehatan dan lingkungan kita yang terganggu."
Pandangan itu menggambarkan betapa krusialnya posisi Kali Gelis bagi masyarakat Kabupaten Kudus. Namun, sungai yang membelah kota ini tampaknya masih harus menjadi saksi bisu pasang surut persoalan lingkungan yang tak kunjung usai.
Sejak tahun 2019 hingga masuk ke tahun 2026 ini, riwayat Kali Gelis seolah tak pernah lepas dari ritual tahunan, kerja bakti dan bersih-bersih sungai. Hampir setiap tahun, bencana luapan air mengintai warga di sekitar aliran sungai akibat tumpukan sampah domestik. Dan hampir setiap tahun pula, aksi angkat sampah massal digelar. Namun, mengapa sampah-sampah itu seolah memiliki "nyawa" dan selalu kembali?
Lingkaran Setan "Dua Minggu"
Bagi pihak kecamatan, aksi bersih-bersih visual di area sungai sebenarnya sudah berulang kali dilakukan. Namun, ada fenomena unik sekaligus miris di tengah masyarakat.
"Sampah sudah kita bersihkan hari ini, nanti sekitar dua minggu lagi bisa tumbuh lagi sampahnya di sungai. Bahkan ada kesan masyarakat itu seperti “dijagake” (mengandalkan), berpikiran 'Ah, nanti toh bakal dibersihkan lagi oleh petugas atau relawan,'" ungkap Pak Camat.
Ia menekankan bahwa membersihkan sungai hanyalah menyelesaikan masalah di hilir. Sumber penyakit utamanya justru berada di hulu, yaitu isi kepala dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Ranting pohon yang tersangkut di kolong jembatan sering kali menjadi magnet yang mengunci tumpukan sampah domestik, mulai dari limbah dapur hingga sisa makanan warung, yang berujung pada banjir luapan.
Merangkul Gen Zilenial dan Bank Sampah
Menyadari bahwa mengubah tabiat masyarakat tidak bisa dilakukan secara drastis lewat sanksi hukum semata, pihak Kecamatan Kota memilih jalur edukasi yang lebih humanis. Baru-baru ini, sebuah gerakan sosialisasi digelar dengan menyasar generasi "Zilenial" gabungan Gen Z dan Milenial.
Bagi kecamatan, anak-anak muda ini diharapkan mampu menjadi agent of change (agen perubahan) di lingkungan keluarga mereka. Pihak kecamatan juga sangat terbuka jika gerakan peduli lingkungan ini ke depan bisa melibatkan para akademisi atau mahasiswa teknik lingkungan secara spesifik untuk bergerak bersama.
"Selama ini kami baru melihat dari konteks visual pokoknya sampah kelihatan banyak, lalu kita bersihkan. Kalau ada kajian dari ilmu lingkungan yang ikut, analisisnya pasti bisa lebih dalam. Bisa menguji berapa kandungan merkuri atau bakteri salmonela di air ini. Kami sangat terbuka," tambah Pak Camat.
Selain edukasi, langkah konkret pemilahan sampah dari rumah tangga juga mulai digalakkan. Pihak kecamatan telah menggandeng perusahaan swasta (Djarum) untuk mengelola sampah organik. Sementara itu, sampah anorganik disalurkan melalui bank sampah yang kini mulai berdiri di beberapa desa di Kecamatan Kota. Hasilnya, warga bisa menukarkan sampah kering menjadi uang tunai hingga voucher listrik.
Sanksi Perda vs Pendekatan Hati
Ketika disinggung mengenai ketegasan aturan, pihak kecamatan tidak menampik bahwa Kabupaten Kudus sebenarnya sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Namun, eksekusi penindakan tersebut berada di ranah Satpol PP sebagai penegak Perda.
Dari sisi kecamatan, langkah yang diambil sejauh ini memang lebih menekankan pendekatan edukatif secara langsung ke rumah-rumah warga, seperti yang baru-baru ini digalakkan di wilayah Kelurahan Demaan.
Lantas, mana yang lebih sulit antara membersihkan aliran sungai atau mengubah perilaku manusia? Pihak kecamatan menegaskan bahwa keduanya adalah tantangan kembar yang tidak bisa dipisahkan.
"Dua-duanya harus berjalan beriringan. Mengubah perilaku hidup sehat itu paling utama, tapi karena kondisi fisik Kali Gelis yang sudah seperti ini, pembersihan berkala juga mutlak dilakukan," jelasnya.
Kerja Besar yang Belum Usai
Persoalan Kali Gelis tentu tidak bisa diselesaikan oleh satu kecamatan saja. Air mengalir dari hulu ke hilir lintas wilayah. Pihak kecamatan mengakui, meski belum ada kerja sama bilateral langsung antar-kecamatan, pemerintah daerah telah membentuk tim terpadu di bawah koordinasi Bupati melalui Dinas PKPLH.
Aksi bersih-bersih pra-Ramadhan lalu di sisi utara jembatan menjadi salah satu bukti bahwa kerja ini adalah estafet yang panjang. Kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan institusi pendidikan diakui menjadi angin segar yang sangat membantu.
Kini, perjuangan mengikis "kolesterol" di nadi Kali Gelis masih jauh dari kata selesai. Selama kesadaran belum tumbuh di tiap jengkal rumah tangga, maka selama itu pula Kali Gelis akan terus menanti uluran tangan para relawan di minggu-minggu berikutnya. (FRS)

Posting Komentar