DPM UMK Advokasi Keluhan Mahasiswa: Kualitas LSI dan Sarana Prasarana Jadi Sorotan Utama.

 

Foto: Istimewa

KUDUS, Penakampus. id - Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UMK 2026 melalui Komisi 3 bidang Aspirasi dan Advokasi menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna menindaklanjuti berbagai keluhan mahasiswa, khususnya terkait layanan Lembaga Sistem Informasi (LSI) dan sarana prasarana kampus pada selasa, 14 april 2026.

Ketua Umum DPM 2026 Nayla Hasna selaku narasumber menyampaikan bahwa dilaksanakannya RDP sebagai respon banyaknya aspirasi yang dinilai mendesak dan membutuhkan penanganan langsung dari pihak kampus. 

"Dirasa banyaknya aspirasi yang emang itu urgen dan perlu tindakan langsung ke pihak terkait yaitu kemarin kan LSI yang emang kita target utamanya kan LSI" jelasnya. 

Forum tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Selain itu DPM juga turut mengundang petinggi yayasan, rektorat, jajaran wakil rektor (WR) dan pihak LSI. Namun kehadiran pimpinan kampus belum sepenuhnya sesuai harapan. 

"Kemarin saya sempat kecewa karena yang hadir cuma WR 3 aja dari Rektor, WR 1, WR 2 yang bahkan aspirasinya sangat banyak itu tidak bisa hadir, itu sangat disayangkan" ucapnya pada wawancara Jumat, 17 april 2026.

Dalam RDP tersebut sejumlah isu utama mencuat. Permasalahan LSI menjadi yang paling dominan terutama terkait kualitas jaringan Wi-Fi, serta kendala pada sistem akademik laman website Sunan dan Kanal UMK yang sering bermasalah terlebih pada momen-momen tertentu. 

Selain itu mahasiswa juga menyoroti kondisi fasilitas kampus termasuk ruang kuliah, Base Camp (BC) Ormawa serta sarana fakultas yang belum memadai. 

Menaggapi hal tersebut, melalui keterangan pihak kampus memberikan sejumlah respon positif dan menyatakan komitmennya untuk melakukan pembenahan. DPM mencatat sejumlah 25 poin aspirasi yang dirangkum dalam bentuk matrik yang dijadikan sebagai acuan. 

Meski demikian DPM menilai masih terdapat kendala dalam komunikasi.  "Jadi aspirasi kami itu didukung cuma kadang yang menjadi permasalahan adalah kurangnya konfirmasi kepada kami" ujar Nayla. 

Beberapa perbaikan di klaim sudah terealisasikan dalam waktu singkat, seperti atap BC yang bocor. Namun, untuk permasalahan yang bersifat pembangunan dan struktural membutuhkan penanganan waktu lebih panjang.

Sebagai tindak lanjut, setiap aspirasi dalam bentuk matrik telah dilengkapi penanggung jawab dan tenggat waktu yang bervariasi, serta dikelompokkan tergantung dari tingkatan urgensi dimulai dari sedang, tinggi, hingga kritis.  "Yang kritis itulah yang mungkin kita kejar mungkin dari kurun waktu ada yang 1 minggu" Tegas Naila. 

DPM menyatakan untuk terus memantau realisasi aspirasi tersebut, jika dalam kurun waktu yang ditentukan namun aspirasi belum juga terealisasikan, pihaknya membuka kemungkinan untuk kembali membuka forum serupa atau audiensi terbuka. 
Melalui forum ini, mahasiswa juga dihimbau untuk selalu menyampaikan aspirasi secara bijak dan melalui jalur resmi agar dapat ditangani serta ditindaklanjuti secara efektif. (MJI)

0/Komentar