Foto : irfan zaky Pratama
Kudus, Penakampus.id - Pasar Sarwono yang terletak di tengah hutan jati Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, kembali digelar pada (8/2). Keberadaan pasar tradisional tersebut menarik perhatian ribuan pengunjung dari kalangan lokal maupun luar daerah. Mengusung konsep pasar unik bernuansa alam, Pasar Sarwono rutin dibuka setiap 36 hari sekali sesuai penanggalan Jawa, tepat pada hari Minggu Legi, mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 09.00 WIB.
Pasar Sarwono bukanlah pasar pada umumnya. Suasana yang dihadirkan seolah membawa pengunjung ke masa lalu, dengan latar di bawah rindangnya pohon jati serta beragam elemen bernuansa tradisional. Perpaduan budaya, kuliner, dan alam yang kuat menjadikan lokasi ini sebagai salah satu daya tarik wisata baru di Kabupaten Kudus.
Pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner tradisional khas Jawa, seperti nasi jagung, pecel kampung, aneka botok, hingga jajanan pasar seperti gethuk, dan klepon. Selain itu, tersedia juga minuman tradisional seperti wedhang uwuh dan kunir asem. Semua hidangan disajikan secara tradisional, sering kali menggunakan daun jati dan daun pisang sebagai alas atau pembungkus.
Salah satu daya tarik utama adalah sistem transaksi yang berbeda dari pasar pada umumnya. Pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang tunai dengan koin kayu seharga sekitar Rp 2.000 per keping, yang kemudian digunakan untuk berbelanja di kios-kios pedagang. Sistem ini tidak hanya memunculkan pengalaman tradisional yang autentik, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Pasar Sarwono kini menjadi magnet bagi wisatawan, baik dari kalangan lokal maupun luar kota. Pada Minggu Legi tertentu, jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang, sehingga menjadikan pasar ini tidak hanya sebagai tujuan wisata kuliner, tetapi juga sebagai ruang pengalaman budaya yang unik dan berbeda dari pasar pada umumnya.
Tidak hanya menawarkan pengalaman berwisata, pasar ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Keberadaan pasar ini memfasilitasi warga Desa Wonosoco untuk menjual hasil pertanian, makanan, serta produk UMKM lokal mereka. Melalui kegiatan semacam ini, pemberdayaan ekonomi desa dapat berjalan seiring dengan terbukanya ruang interaksi budaya antara warga dan para pengunjung. (IZY)

Posting Komentar