KUDUS, Penakampus.id -
Kudus Book Party gandeng Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Joglo Maqha, dan
Gramedia menggelar acara talkshow dan bedah buku “Rumah” karya terbaru dari
J.S. Khairen. Acara tersebut digelar di Joglo Maqha pada hari Sabtu (24/1) yang
dimulai dari jam 18.00 WIB yang dihadiri oleh beberapa tamu undangan dan
terbuka untuk umum.
Talkshow ini dibuka
dengan pertunjukan budaya lokal oleh Kampung Budaya Piji Wetan yang turut andil
dalam acara tersebut. Pameran seni rupa tak lupa disuguhkan kepada khalayak
umum sebagai bentuk pengenalan karya seni yang dimiliki oleh KBPW. Kegiatan
yang tak kalah menjadi perhatian yaitu bedah buku “Rumah” yang sangat
dinantikan oleh para masyarakat yang hadir. Antusiasme mereka tampak terlihat
ketika J.S. Khairen ada dihadapan mereka.
Ide adanya novel “Rumah”
muncul ketika sang penulis melakukan ibadah umroh ke tanah suci. J.S. Khairen
beberapa kali melakukan ibadah umroh, namun tidak dengan sang istri yang sangat
ingin melakukan ibadah tersebut. Ketika kesempatan datang, ia justru pergi ke
tanah suci dengan orang lain. Menurutnya ia berkali-kali ke rumah yang sama,
namun ia tak pernah benar-benar merasa pulang.
“Rumah tak selalu
berbentuk gedung, rumah bisa berarti mewakili orang-orang yang bisa menerima
kalian dalam keadaan lemah maupun susah,” ujar pria humoris itu.
J.S. Khairen bukanlah
orang yang agamis, namun dari buku-bukunya yang memiliki nilai religius justru
sangat diminati para khalayak dari muda hingga tua. Banyaknya peminat ini
membuat setidaknya dua dari semua bukunya yang akan diangkat menjadi sebuah
film layar lebar. Perasaan puas ketika sebuah buku novel sudah jadi dan
diterima oleh masyarakat tetaplah ada, namun tantangan terbesarnya yaitu
memikirkan novel yang akan ditulis berikutnya. Ide tak selalu muncul, namun
dengan menulis setiap kejadian yang pernah dialami bisa dijadikan bahan untuk
tulisan.
Dalam penutupnya, ia
berharap bahwa novelnya bisa diterima dan dibaca oleh semua kalangan. Rendahnya
minat baca masyarakat menjadi suatu tantangan tersendiri yang tidak bisa
dihindari. Namun sang penulis tetap percaya diri bahwa ketika karya yang
dibuatnya bagus, pasti akan menarik minat baca dari masyarakat itu sendiri. Ia
juga berpesan bahwa rumah adalah tempat kalian kalah, salah, dan rumah juga
tempat yang dimana bisa menerima kalian dimanapun dan kapanpun sampai kalian
bisa menghadapi dunia kembali. (AIN/AIQ)

Posting Komentar