"Kacau," itulah yang
ada di pikiran saya seusai membaca sebuah novel dari Goenawan Mohamad yang
berjudul Surti & Tiga Sawunggaling. Ada perasaan takjub sekaligus
bingung ketika membacanya.
Novel ini bercerita tentang
seorang buruh batik bernama Surti dan suaminya bernama Jen yang seorang
gerilyawan. Novel ini berlatar di sebuah kota fiksi bernama Degayu pada tahun
1947, pasca kemerdekaan. Seperti halnya karya berlatar sejarah kemerdekaan, diceritakan
bagaimana perlawanan melawan penjajahan.
Jen, yang merupakan seorang
gerilyawan, diceritakan sering menghilang dari rumah dan selalu menghilang
menjelang dini hari. Untuk keperluan apa Jen sering pergi, ia menjawab “mencari
mimpi.” Di tengah-tengah suasana yang tidak menentu itu, Surti menghibur
dirinya dengan cara membatik dan menggambar tiga ekor burung Sawunggaling.
Burung-burung inilah yang tiap malam terbang bercerita pada Surti apa yang
terjadi di lingkungannya dan suaminya selama mencari mimpi.
Yang menarik perhatian saya
sendiri adalah tipografi yang digunakan. Bukan seperti paragraf panjang seperti
novel pada umumnya, paragrafnya cenderung singkat dan mungkin hanya beberapa
kata saja. Pada gaya bahasanya sendiri, sering kali saya merasakan seperti
membaca sajak puisi, atau mungkin perpaduan antara puisi dan prosa.
Dalam penceritaannya yang sarat
akan hal-hal magis, mungkin novel ini termasuk dalam aliran realis-magis.
Seperti bagaimana tiga burung Sawunggaling keluar dari kainnya, atau ketika
tiba-tiba ada tokoh bernama Narto yang dikabarkan telah hilang, tiba-tiba
datang ke rumah Surti memberikan pesan kepada Jen, lalu pergi. Lalu, terdapat
sebuah kalimat menarik yang membuatku berpikir sejenak, “Kemudian aku tahu, aku
telah bertemu dengan seseorang yang tak ada lagi.” Membacanya aku bergumam,
"Huh, apa?"
Ini adalah novel singkat yang bisa habis dibaca sekali duduk meskipun tak selalu memahami. Ini adalah karya Goenawan Mohamad pertama yang saya baca dan saya puas. (MAU)

Posting Komentar