![]() |
| Aris Ariyanto, Staff Ahli Kementrian Aksi dan Propaganda ketika diwawancara, (foto: Ratna P/Pena Kampus) |
KUDUS, Penakampus.online – Aliansi mahasiswa serukan aksi turun ke jalan. Seruan
ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi sekaligus memperingati Hari Buruh dan
Hari Pendidikan Nasional. Aksi dilakukan di Alun-Alun Simpang Tujuh, Senin
(3/5).
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Kudus,
diantaranya IMM, HMI, PMII, BEM UMK, dan IAIN. Dalam hal ini ada enam point
yang mereka sampaikan. Pertama, meminta vaksinasi menyeluruh. Kedua, segera disahkannya
RUU PKS.
Ketiga, mewujudkan ruang akademis dan
bebas dari kekerasan seks. Keempat, THR buruh dibayarkan secara utuh. Kelima,
dicabutnya Omnibus Law. Keenam, menolak berbagai kriminalisasi terhadap aktivis
pro-demokrasi.
Aris Ariyanto, salah satu Staff Ahli
Kementrian Aksi dan Propaganda BEM UMK menjelaskan terkait peringatan
Hardiknas. "Kami ingin pemerintah mengambil tindakan untuk melakukan
vaksinasi masal agar pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan," tuturnya.
Pria yang akrab disapa Aris itu sempat menyinggung
isu-isu pendidikan. “Aksi ini dilakukan bukan untuk menuntut pemerintah. Namun,
untuk menyerukan kebebasan dalam mengekspresikan isu-isu pendidikan. Baik dalam
bentuk puisi, orasi, monolok, dan lain-lain," sambungnya.
Sementara itu, Eno, salah satu anggota BEM
UMK menyampaikan, agar THR buruh dibayar secara penuh. “Terkait RUU PKS, dilatar
belakangi beberapa kasus kekerasan seksual di kampus. Tetapi, mahasiswa yang bersangkutan
tidak berani untuk membuka mulut. Melalui RUU PKS, kasus semacam itu akan
memilik payung hukum yang jelas,” imbuhnya.
Melalui aksi ini, mahasiswa diharapkan
dapat melakukan gerakan secara masif. Terlebih, selama ini mahasiswa kurang
terbuka dalam menanggapi isu nasional. “Harapan dari kami agar mahasiswa lebih
tanggap dalam menghadapi isu-isu nasional yang lain," tutupnya. (hai/lat/rap)

Posting Komentar