![]() |
| Ilustrasi Zainuz Zuha |
Kumiliki sebuah ruang kosong sunyi nan penuh
kegelapan
Hanya sebuah hunian tuk jiwa yang tak pernah abadi
Tinggalah disana sepasang rasa yang dibiarkan begitu saja
Pada denyut sang waktu hadirlah reruntuhan yang tak pernah diinginkan
Hampir saja rasa tak bernyawa terbunuh aksa di
dalam daksa
Nyanyian sendu menampar keras pada dinginnya sang angin
Menyingkap elegi yang bertalu-talu
Mengundang intuisi dalam ruang pertemuan
Jagat raya yang bersadur banyak halpun makin
biasa saja
Seolah mati teraniaya keadaan
Raga masih bertahan di sudut ruangan
Namun frustasi makin merusak ilusi
Langkah lara, jalan di hiasi belati
Ragu berteriak di hening pening
Rasa makin liar tega mecabik sukma
Fase dimana pasrah adalah solusi
Realisasi dari negosiasi dengan sang pencipta lahir sungguh nyata
Benar saja, kau hadir bagai cahaya yang menampik segala ragu atas gelap
Sadar! Dia tunanetra, kau percuma!
Wow, sungguh arkais yang terkuak sadis
Oleh Maeta Nilasari
(Semester 4 Prodi PBSI)
Hanya sebuah hunian tuk jiwa yang tak pernah abadi
Tinggalah disana sepasang rasa yang dibiarkan begitu saja
Pada denyut sang waktu hadirlah reruntuhan yang tak pernah diinginkan
Nyanyian sendu menampar keras pada dinginnya sang angin
Menyingkap elegi yang bertalu-talu
Mengundang intuisi dalam ruang pertemuan
Seolah mati teraniaya keadaan
Raga masih bertahan di sudut ruangan
Namun frustasi makin merusak ilusi
Ragu berteriak di hening pening
Rasa makin liar tega mecabik sukma
Fase dimana pasrah adalah solusi
Realisasi dari negosiasi dengan sang pencipta lahir sungguh nyata
Benar saja, kau hadir bagai cahaya yang menampik segala ragu atas gelap
Sadar! Dia tunanetra, kau percuma!
Wow, sungguh arkais yang terkuak sadis
(Semester 4 Prodi PBSI)

Posting Komentar