Dari Rapor yang Penuh Angka Merah Hingga Calon yang Mewakili Daerah

 Judul           : Miftah Sabri Sebuah Awalan

Penulis        : Fenty Effendy

Penerbit      : Ide Kini

Tahun          : 2019

Halaman     : xxvii + 189 hlm

Ukuran       : 13, 5 x 20cm

Istimewa

Miftah  Sabri, seorang aktivis, dosen, peneliti sekaligus konsultan politik, pollster, mentor start up dan masih banyak lagi prestasi yang dibuatnya. Pada tahun 2019, ia maju menjadi DPR-RI. Khususnya dari Dapil Riau 1 dari Partai Gerindra. Namun ia kalah dan sekarang fokus menjadi pengamat politik dan tinggal di Amerika.

Banyak yang belum mengenal pria kelahiran Dumai, Riau itu dalam dunia politik. Padahal ia pernah terlibat dalam pemenangan Cagub underdog Sumatra Utara. Pernah juga terlibat Pemilu 2009. Saat itu ia memaparkan hasil survei kepada Jusuf Kalla yang berencana maju sebagai Capres melawan petahana Susilo Bambang Yudhoyono. “Pak, kalah!. Bapak nggak usah maju. Bapak nggak mungkin menang,” ucapnya dengan tegas. Walau akhirnya Jusuf Kalla tetap maju dan kalah.

Dalam buku ini kita akan mengenal lebih dekat melalui Fenti Effendy tentang siapa itu Miftah Sabri, apa yang dilakukannya di balik layar perpolitikan Indonesia serta hal-hal unik tentang Miftah Sabri.

“Ini sebuah periode dimana sebagai anak muda, kerjakan yang terbaik. Do your best and sky is the limit. Itu pelajaran pertama. Kedua, never say no. Saya tidak pernah bilang ‘tidak bisa’. Harus bisa!” hal. 121.

Dari rapor yang penuh angka merah hingga calon yang mewakili daerah, inilah Miftah Nur Sabri, seseorang yang suatu saat akan bermain dengan data dan angka perpolitikan Indonesia.

Dalam buku ini Fenty membagi cerita dalam 3 bagian. Pertama yaitu ketika Miftah kecil yang sangat gemar baca buku tetapi memiliki rapor yang merah dipindahkan dari Bukittinggi ke Dumai. Disana ia digembleng oleh adik dari ibunya menjadi siswa yang berprestasi, baik di sekolah maupun lomba-lomba yang ia ikuti.

Bagian dua bercerita tentang hijrahnya ke Jakarta setelah lulus dari SMAnya. Dia masuk di Jurusan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Disana ia mengikuti banyak organisasi dan penelitian dalam kampus.

Sebuah cerita menarik bertajuk “menemukan Zaky”.  Suatu ketika Pusat Kajian Riset dan Politik (Puskapol) UI berencana membuat quick count Pilkada Jakarta 2007. Miftah merasa mampu dengan pengetahuannya tapi tidak dengan teknologinya. Maka ia carilah seseorang yang mampu membuat software tersebut. Ia pun bertemu dengan Zaky, mahasiswa ITB dengan kaca mata tebal dan tubuh kurusnya. Singkat cerita mereka berhasil melakukan quick count dan ditayangkan di Jak TV. Itulah cerita singkat Achmad Zaky yang suatu saat menjadi Founder Bukalapak.

Bagian ketiga bercerita tentang Miftah setelah menyapihkan diri dari UI. Disini ia berkenalan dengan Sandiaga Uno dan membantunya memenangkan Pilkada DKI 2015. Berkat perkenalan itu juga ia maju Menjadi Caleg yang menjadi dasar judul buku ‘Sebuah Awalan’.

Dengan pengalaman menulis biografi dari tokoh-besar Indonesia, Fenti Effendy menceritakan dengan baik siapa itu Miftah Sabri. Ia dapat mengupas detil-detil yang banyak orang tidak mengetahuinya. Pembawaan bahasanya pun menarik, diselingi sedikit-sedikit bahasa daerah, tapi sayangnya tidak ada penjelasan tentang bahasa daerah tersebut sehingga saya tidak dapat mendapatkan makna secara langsung. Walau begitu saya tetap sangat merekomendasikan buku ini kepada pembaca secara umum. Karena buku ini ramah dengan banyak kalangan.(Zain/Peka Online)

 

 

0/Komentar