Sebuah catatan terbesar
bagi negeri ini memiliki tokoh hebat dan bijaksana terhadap rakyatnya. Sosok itu
ialah Bung Karno,
bapak proklamator RI.
Memasuki
masa dewasanya Bung Karno menghabiskan waktunya dengan buku-buku. Ia
mengenal marxisme sejak duduk di bangku kuliah. Pada saat itu beliau di jejali
oleh sang gurunya yaitu HOS. Tjokro Aminoto dengan bacaan-bacaan kiri.
Salah satu ciri khas
yang menjadi pembeda antara Bung Karno dengan politisi saat ini adalah
penguasaanya dalam teori-teori politik. Ia bukan seorang politisi karbitan
atau dari politisi keturunan. Ia juga bukan politisi ngawur-awuran, yang
landasan tindakannya tidak didasarkan sebuah panduan yang jernih dan solid.
Sebaliknya, seluruh landasan tindakan
politik dari Bung Karno merupakan refleksi atas kondisi sosial pada masanya,
dan semua itu di tuangkan dalam catatan-catatannya dan dalam pidatonya yang
menggebu-gebu. Salah satu yang mempengaruhi sumber pemikiran realitas Bung
Karno dengan lebih mendalam dan utuh yakni marxisme.
Bung Karno menyampaikan bahwa “teori marxisme
adalah teori-teori yang saya anggap kompeten dalam memecahkan permasalahan
kelas-kelas politik, dan kelas-kelas kemasyarakatan”. Jadi Bung Karno adalah
seseosok manusia pergerakan dengan bersenjata marxisme.
Bagi saya sendiri
berpendapat, hal tersebut tidak berlebihan bahwa marxisme telah berjasa
besar di kehidupan Bung Karno ini. Sebab, dengan adanya marxisme yang
tumbuh di dalam kehidupan Bung Karno, ia menjadi tidak rasis dengan
kolonialisme, sebagai utaraan ekspresi berkulit putih. Dia sadar bahwa adanya
kolonialisme adalah konsekuensi dari adanya kapitalisme yang membutuhkan sumber
bahan baku, menghabiskan tatanan negeri, tenaga kerja murah, penjualan di pasar
menjadi mahal, dan mengakomodasi lahan baru sebagai prasyarat keberlanjutan
dari prose akumulasi sistem kapital.
Tidak lepas dari Bung Karno adalah sesosok yang
memeluk nasionalisme sebelum jauh-jauh dari chauvuinisme dan fasisme.
Karena Bung Karno bercampur dengan nasionalisme, ia memiliki jiwa sangat
progresif. Bisa dikatakan, ia adalah nasionalisme kiri, karena selalu
mengedepankan cita-cita kesejahteraan masyarakat dan kelas proletar sebagai
tujuan utamanya.
Pada tahun 1958 Bung
Karno mencetuskan kolaborasi yang memunculkan sebuah pemikiran marxis
namun ala-ala Indonesia yakni Marhaenisme. Marhaenisme itu sendiri diambil dari
nama petani di daerah bandung, Bung Karno menemukan Marhaenisme pada saat
melakukan riset di bandung selatan pada tahun 1921. Bung Karno menyebutkan
bahwa marhaenisme sebagai marxisme yang dapat diberlakukan, dan di cocokan di
indonesia.
Tentu saja yang menjadi
pertanyaan apakah ada kaitannya yang dicocokkan antara marxisme dengan
keadaan Indonesia? Sebagai seorang pemarxis, Bung Karno menganalisa dengan
memakai kelas
sosial.
Menurut bacaan Bung Karno, selalu ada kelas sosial yang memainkan tugas sejarah
untuk mengubah relasi produksi agar sejalan dengan tenaga-tenaga pekerja
produktif. Kalo di eropa tugas sejarah yakni proletar. Namun masyarakat Indonesia
berbeda, kendati masyarakat proletarnya sudah ada, seperti para pekerja di
pertambangan. Tetapi komoditas jumlahnya masih kecil, masyarakat Indonesia
lebih dominan para pemilik produksi kecil, perdagangan kecil, pertanian keci,
dan usaha kecil. Kehidupan mereka sangat sengsara dan bisa dikatakan sebagai
masyarakat tertindas.
Sejalan dengan keadan tertindas itu, proletar berbeda dengan marhaen,
proletar adalah terminologi yang dikembangkan oleh marx untuk menjelaskan
perkembangan kapitalisme di Eropa. Sedangkan marhaen mereka yang memiliki alat
produksi kecil, yang tidak menyewa, dikerjakan oleh keluarganya, dan hasil upah
produksinya untuk menghidupi kehidupan keluarganya.
Cita-cita marhaenisme
itu sendiri memperkuat dan mendorong para buruh dan kaum miskin lainnya, tentunya
untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan imperialisme, sebabnya sistem kedua
tersebut telah menindas rakyat jelata. Pada tanggal 17 agustus 1946 dalam
pidatonya Bung Karno menyatakan bahwa Revolusi Indonesia yang bergejolak pada
tahun 1945 bermuara pada Sosialisme Indonesia. Esensi dari Sosialisme itu
sendiri adalah kesejahteraan sosial dan kemakmuran bagi setiap orang. Sebagai
prasyarat, harus ada kepemilikan pabrik yang kolektif, harus ada
industrialistik yang kolektif, ada produksi yang kolektif, dan harus ada
distributif yang kolektif.
Selain itu Bung Karno
menegaskan bahwasannya “Sosialisme Indonesia sebagai hari depan, Revolusi Indonesia
bukan semata-mata ide ciptaan seseorang (dalam satu malam tidak tidur), juga
bukanlah barang yang diimpor dari luar negeri lalu kita bisa menikmati, atau
hal paksaan dari masyarakat luar Indonesia. Akan tetapi, suatu perlawanan
penentangan daripada kaum tertekan. Suatu kesadaran sosial yang ditimbulkan
oleh masyarakat Indonesia sendiri, dan sebuah suatu keharusan dari sejarah.
Dengan demikian, sosialisme menjadi patokan masyarakat Indonesia dengan tradisi
progresif yang melekat dan mengakar ditubuh masyarakat indonesia yakni gotong-royong.
Untuk mewujudkan
Sosialisme Indonesia, Bung Karno belajar dari revolusi perancis. Pada masa itu,
kaum borjuis menarik kaum proletar dan kaum tani dalam persekutuan dibawah
slogan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan untuk menumbangkan kekuasaan
feodalisme. Begitu
kekuasaan feodal tumbang, kaum borjuis membangun kekuasaannya sendiri dengan menyingkirkan kaum proletar dan kaum
miskin lainnya. Bung Karno
mewanti-wanti betul kejadian revolusi perancis tidak terulang
dalam revolusi indonesia. Oleh karenanya, dalam perjungan mendatangkan
kemerdekaannya pada tahun 1945, kaum marhaen harus tetap menjaganya supaya
tidak kena getahnya, akan tetapi kaum borjuis atau feodal yang memakan buahnya.
Demikian seorang Bung
Karno membuat 2 (dua) gagasan terbesarnya yaitu Sosio-Nasionalisme
dan Sosio-Demokrasi.
Sosio nasionalisme adalah nasionalisme yang berpihak
terhadap massa-rakyat. Sosio-nasionalisme
menolak kapitalisme dan feodalisme. Sosio-nasionalisme mencita-citakan sebuah
masyrakat yang di dalamnya tidak ada penindasan dan eksploitasi oleh suatu
kelas terhadap kelas tertentu. Secara harfiah sosio-nasionalisme yang
mengkhendaki masyarakat tanpa kelas.
Dalam capaiannya
Sosio-nasionalisme menawarkan prinsip beberapa hal. Pertama, Sosio-nasionalisme politik dan Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari.
Sosio-nasionalisme politik nasional dan berdaulat menjamin penyelenggaraan
kekuasaan politik terhadap negara republik indonesia tidak di recoki. Dan
Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari, memastikan kedaulatan negara terhadap
seluruh kekayaan ekonomi sosial. Kedua,
Sosio-nasionalisme menempatkan kemerdekaan sebagai jembatan emas untuk mencapai
cita-cita masyarakat maupun negara untuk yang lebih tinggi, yakni masyarakat
adil dan makmur. Ketiga, mengolaborasikan dalam semangat kebangsaan dan
kemanusiaan. Demikian Sosio-nasionalisme mencegah terjadinya nasionalisme yang
sempit. Selain itu sosionalime menganggap perjuangan emansipasi nasional tidak
terpisahkan dalam perjuangan bangsa-bangsa diseluruh dunia untuk mewujudkan
bangsa yang adil dan beradab.
Kemudian dalam
sosio-demokrasi, yakni antitesa dari demokrasi parlementer yang dihasilkan oleh
revolusi perancis. Sosio-demokrasi juga menyatakan keberpihakan, yakni kepada
rakyat marhaen. Secara harfiah, sosio-demokrasi berarti demokrasi masyarakat
atau demokrasi massa-rakyat. Karena keberpihakan sosio-demokrasi tersebut
menolak kapitalisme dan feodalisme. Yang menjadi pertanyaan apa hubungan
sosio-demokrasi dengan cita-cita marhaenisme, yang mewujudkan masyarakat adil
dan makmur?
Dalam prinsipnya
sosio-demokrasi menawarkan beberapa hal. Pertama,
sosio-demokrasi mengidamkan kekuasaan politik ditangan rakyat marhaen. Bentuk
konkretnya yakni negara yang berisikan
rakyat, seluruh urusan ekonomi di pegang oleh rakyat, dengan rakyat dan untuk
rakyat. Kedua, sosio-demokrasi
mendorong kepemilikian sosial terhadap alat-alat produksi dan sumber daya
ekonomi. Ini adalah sebuah langkah untuk menentukan demokrasi ekonomi, maka
dengan di lapangan politik dan budaya menjadi sangat mungkin. Oleh karenanya,
ekonomi pangkal dari sumber segala bagi kehidupan politik dan sosial budaya. Ketiga, menyerahkan urusan ekonomi dan
politik di tangan rakyat. Sosio-demokrasi menghilangkan pemisahan antar ekonomi
dan politk yang lazim digunakan pada sistem kapitalisme. Untuk pemenuhan
kebutuhan ekonomi tidak dianggap sebagai individualistik namun menjadi urusan
kolektif.
Bung Karno tidak
berhenti dalam gagasanya, ia juga menawarkan gagasannya yakni strategi politik.
Menurutnya, dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia revolusi harus ditempuh
menggunakan 2 (dua) fase yakni fase nasional demokratis dan fase sosialis.
Dalam nasionalis
demokratis kita akan mendirikan negara yang merdeka dan demokratis, sedangkan
dalam fase sosialisme kita akan mendirikan sosialisme (gotong royong). Dalam fase nasionalis demokratis kita akan
mengakhiri penindasan sosial dan menghancurkan sisa-sisa feodalisme. Tentunya
perjuangan kita dalam nasionalis demokratis untuk menghancurkan kolonialisme di
lapangan politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Dalam fase nasionalis
demokratis, untuk menyiapkan syarat-syarat fase selanjutnya yakni revolusi
sosialis. Syarat-syarat tersebut antara
lain yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa, mendorong demokrasi seluas-luasnya,
dan membangun kepribadian mental sebuah bangsa. Dengan demikian, revolusi
sosialisme yang mengarah pada perwujudan sosialis indonesia yang tidak ada lagi
kapitalisme. Salah satu ciri poin utama dalam sosialisme adalah kepemilikan
sosial terhadap alat produksi. Dan seperti yang dikatakan oleh Bung Karno,
negara hanya berfungsi sebagai organisasi atau alat, akan tetapi kepemilikan
yang sesungguhnya harus ditangan rakyat.

Posting Komentar