![]() |
| Foto: Google |
Semua insan manusia mengetahui bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun, dari manakah kita mengetahui dan bisa mengenal bahwa DIA-LAH Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang???
Tak sedikit yang menjawab :
“Kita bisa mengetahuinya dari semua
karunia yang di berkahkan kepada seluruh makhluk,”
“Melalui manusia yang diberikan nyawa dan
kehidupan, akal, pikiran serta rasa yang mebedakannya dari makhluk ciptaan yang
lain,”
“Melalui penciptaanNYA terhadap seluruh
alam semesta,”
Terlampau jauh jika kita memikirkan hal
tersebut untuk mengetahui Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebenarnya,
sudah ada di depan mata kita untuk bisa memahami dan mengenal bahwa Allah Sang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan akan mampu meningkatkan keimanan manusia
terhadap Sang Khaliq.
Lalu dari mana ????
Dari IBU kita bisa mengenal Sang Maha
Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Ibu adalah seorang wanita yang melahirkan
kita di dunia. Beliau mengandung selama 9 bulan lebih dan mempertaruhkan nyawa
dalam proses kelahiran. Tidak peduli bagaimana sakitnya beliau tetap bertahan
dan tetap berjuang tanpa mepedulikan keselamatannya sendiri. Setelah proses
kelahiran beliau pun tak mempedulikan dirinya sendiri dengan merawat
putra-putrinya dengan penuh kasih dan sayang bahkan rela untuk tidak tidak
makan asal putra putrinya kenyang, rela untuk tidak belanja dan membeli baju
asal putra-putrinya kecukupan serta tanpa pamrih lebih memilih membanting
tulang dan bercucuran darah dan air mata asal putra-putrinya mengenyam
pendidikan sampai jenjang tertinggi dan menjadi orang yang sukses.
Sepenggal
kisah di atas adalah bagian perjuangan ibu yang menjadikan ibu begitu mulia
posisi dan perannya dalam kehidupan seluruh insan manusia. Hal tersebut
merupakan setitik bentuk kasih sayang seorang ibu terhadap putra-putri
kesayanganya. Melalui kasih sayang ibulah, kita bisa mengenal dan memahami
Kasih dan Sayang dari Sang Maha Segalanya. Kita bisa hidup di dunia dan
merasakan keindahan Dunia melalui Ibu yang telah melahirkan kita. Tanpanya kita
tidak akan bisa menapakkan kaki dan melangkah lebih jauh untuk mencapai
cita-cita.
Ibu adalah dunia dan surga kita.
Sejak dalam kandungan, kasih sayangnya
mengalir tanpa henti, susah payah dengan perutnya yang semakin membesar tak
pernah dikeluhkannya namun di lalui dengan senyuman. Setelah lahir, memberikan
kasih sayang dengan menyusui kurang lebih dua tahun. Tanpa mempedulikan bentuk
badanya yang berubah, sesibuk apapun tetap akan mengalirkan air dari surga firdaus
melalui Asi. Ketika menyusui, sang ibu melepaskan kasih sayangnya kepada Sang buah
hati. Tidak hanya sekedar menggugurkan dan memenuhi kewajibannya sebagai
seorang ibu, tidak juga karena menginginkan anaknya menjadi cerdas dan kuat
dengan memberikan asi eksklusif dan juga bukan pula karena memenuhi kodratnya
sebagai seorang wanita yang sempurna yang telah melahirkan generasi, akan
tetapi dalam proses menyusui seorang ibu memberikan pembelajaran dan pendidikan
akan kasih sayang. Perjalanan menyususi dengan kasih sayang ini sebenarnya
menjadi doa panjang umur karena kasih sayang bukan karena menginginkan pahala
atau panjang umur dan menghapus dosa namun karena tidak ingin terputus dari
kasih sayang ibu. Dan itulah salah satu bukti nyata bahwa Sang Pencipta
memanglah Maha Pengasih dan Maha Penyayang melalui kasih sayang seorang IBU.
Lalu sudah bisakah kita mengimbangi kasih
sayang ibu?
Ketika di minta membantu tidak beralasan
sibuk dengan rutintas kuliah dan pekerjaan lain, ketika sedih dan membutuhkan
sesuatu tanpa beliau berkata apapun kita bisa merasakannya, tanpa membentak
atau mengeluarakan kata-kata dengan nada tinggi, atau bahkan tidak
menghidarinya karena beliau selalu bawel dan marah-marah. Ketika ditanya oleh
ibu sudah makan atau belum atau kapan pulang, tanpa nada kesal kita menjawanya.
Ibu adalah sosok yang tidak bisa
digantikan oleh apapun. Ibu memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan
keluarga. Ibu adalah penyanggah dan penguat sebuah keluarga. Ibu penuh kasih
dan sayangnya memiliki posisi yang paling urgent dan fundamental. Tanpa adanya
ibu sebuah keluarga akan hancur dan berantakan. Tanpa ibu kita tidak akan bisa
menjadi apapun di dunia ini. Tanpa ibu kita tidak akan bisa mengenal Sang
Pencipta.
Ibu, mamah, mami, bunda, mamak.
Adalah pintu dunia dan akhirat kita.
Jangan sia-siakan Beliau selagi masih ada di samping kita. Jangan sampai kita menyesal ketika beliau sudah di panggil
Sang Pencipta. Berbakti tidak hanya dalam bentuk mencukupi semua kebutuhan
duniawi saja. Namun, dengan bisa memenuhi kebutuhan akan rasa yang selalu
dibutuhkan dan dirindukan olehnya. Dengan memberikan perhatian, menanyainya
sudah makan atau belum, membuatkan sesuatu yang disukainya, selalu mendekatkan
diri dan memahami semua yang sedang dirasakannya dan masih banyak lagi yang
bisa dilakukan untuk menunjukkan bakti kita. Tanpa pamrih apapun. Dengan
senyuman dan dengan keikhlasan karena IBU adalah surga dunia akhirat kita.
Selamat hari ibu. Peluk dan ciumlah IBU
selagi masih bisa kita rasakan aliran kasih sayangnya yang tak terputus di
dunia ini. Dan kuatkanlah keimanan kita dengan mengenal Sang Maha Pengasih
melalui bakti dan kasih serta sayang kita kepada IBU.
Penulis : Rihma Hidayati
Penulis : Rihma Hidayati

Posting Komentar